Kamis, 28 Juli 2016

Kebijakan Pemerintah dan Ketimpangan Pembangunan

Israr Iskandar, pengajar sejarah dan politik Universitas Andalas Padang

(Dimuat di Padang Ekspres, 18 Februari 2011)

Salah satu masalah nasional yang tak kunjung terselesaikan hingga saat ini adalah ketimpangan distribusi pembangunan antarwilayah, khususnya antara Jawa dan Luar Jawa. Kesenjangan itu tercermin dari penyebaran sumber daya manusia, industri, perdagangan dan jasa, infrastruktur, irigasi, listrik, pendidikan dan bahkan sektor pertanian.

Sektor industri hingga kini 80 persennya  masih berada di Jawa.  Tentu juga sektor perdagangan dan jasa. Berkembangnya kegiatan ekonomi di Jawa-Bali ditunjang infrastruktur yang relatif lebih baik, seperti jalan raya, pelabuhan dan bandara serta ketersediaan energi listrik. Jawa masih menjadi episentrum ekonomi nasional yang secara simbolik terlihat dari pertumbuhan sektor finansial.

Sekalipun sudah otonomi daerah, ketimpangan pendidikan Jawa-luar Jawa tetap lebar. Sekolah-sekolah dan universitas-universitas terbaik umumnya berada di Jawa.  Jangan heran setiap tahun terjadi gelombang “migrasi” SDM-SDM terbaik (“brain drain”) yang dimulai saat anak-anak unggul dari luar Jawa memilih masuk ke universitas-universitas di Jawa dan umumnya enggan kembali ke daerah asalnya.

Warisan sejarah

Ketimpangan Jawa-luar Jawa di berbagai bidang merupakan “hilir” corak pembangunan warisan kolonial. Pemerintah kolonial Belanda menjadikan Jawa sebagai episentrum pemerintahan dan  ekonomi Hindia Belanda sejak awal abad 18, tapi pemerintahan Indonesia merdeka tidak melakukan rekonstruksi dan koreksi menyeluruh terhadap paradigma pembangunan kolonial itu.

Pemerintahan Orde Baru (1966-1998) yang  ditopang stabilitas politik dan pinjaman modal besar dari luar negeri sebenarnya memiliki kesempatan menciptakan ekuilibrium pembangunan nasional. Sayangnya pemerintahan Orde Baru terjebak pada model ekonomi pertumbuhan, tapi abai pada aspek pemerataan, baik pemerataan antargolongan maupun antarwilayah. Investasi di Jawa terus dipacu, tapi tanpa diikuti akselerasi pembangunan di daerah lain, khususnya di bagian timur Indonesia.

Pada konteks tertentu, ihwal terkonsentrasinya pembangunan di Jawa barangkali bisa dipahami terkait ketersediaan SDM, kondisi alam pulau Jawa yang memungkinkan, infrastruktur yang sudah diwariskan kolonial dan jumlah populasi yang besar. Sekalipun luasnya hanya 7 persen dari seluruh wilayah daratan negara, tapi pulau Jawa didiami 60 persen penduduk Indonesia.

Kebijakan pembangunan yang justru memperlebar kesenjangan antarwilayah itu telah membawa implikasi berlapis-lapis. Kebijakan pertumbuhan minus pemerataan bahkan menimbulkan berbagai dilema dalam pembangunan nasional di kemudian hari. Berbagai program pemerintah tak berjalan optimal bahkan gagal, karena tak ditopang kebijakan di sektor terkait lainnya.

Transmigrasi, pengentasan kemiskinan, pembangunan daerah tertinggal dan perbatasan, swasembada pangan, maritim, dan sistem transportasi nasional merupakan beberapa contoh program yang tak bisa berjalan optimal, karena tak didukung keseimbangan pembangunan infrastruktur, SDM (pendidikan) dan distribusi modal antara Jawa dan luar Jawa.

Ketimpangan ini akhirnya juga menyisakan banyak masalah pembangunan di Jawa, yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi “bom” yang meruntuhkan sendi-sendi pembangunan negara.  Konsentrasi pembangunan di Jawa bakal memunculkan komplikasi pada masalah lingkungan, ketersediaan pangan, kemiskinan, dan tentu saja berbagai masalah politik dan sosial lainnya.  Padahal, di sisi lain (seperti dikatakan sebagian ekonom), secara umum, pertumbuhan  yang terjadi saat ini juga tak bertumpu pada sektor riil, sehingga gagal mengatasi kemiskinan dan pengangguran.

Ke depan harus ada perubahan atau koreksi mendasar terhadap paradigma pembangunan nasional yang selama ini justru melestarikan pelbagai ketimpangan. Sejarah Indonesia kontemporer menunjukkan, pertumbuhan tanpa memperhatikan aspek pemerataan, termasuk pemerataan distribusi antarwilayah, dan sektor riil, akan menyulitkan bangsa ini keluar dari berbagai bentuk krisis dan jerat pembangunan di masa mendatang.

Beberapa waktu lalu muncul wacana pemindahan ibukota negara Republik Indonesia dari Jakarta ke Kalimantan. Salah satu pemrakarsanya adalah Tim Visi Indonesia 2033, yang dibentuk sejumlah akademisi beberapa universitas di Jawa. Ditinjau dari berbagai aspek, termasuk aspek strategis, ide relokasi ibukota negara ke luar Jawa ini tentu progresif dibandingkan jika hanya memindahkan pusat pemerintahan ke wilayah di sekitar Jakarta atau daerah lainnya di Jawa.

Pembangunan episentrum baru di luar Jawa itu diharapkan bisa menjadi katalisator distribusi pembangunan yang relatif lebih merata ke luar Jawa, khususnya kawasan Indonesia timur, sekaligus mengurangi beban Pulau Jawa yang sudah sedemikian berat, akibat kepadatan penduduk, kerusakan lingkungan dan daya dukung alam yang kian berkurang.

Jumat, 22 Juli 2016

Tips Menjaga Semangat

Ada dua hal yang paling penting dalam hidup Anda yaitu ketika dilahirkan dan mengapa Anda dilahirkan.

Buatlah tujuan setinggi mungkin, ciptakan visi termegah dalam hidup Anda, karena Anda akan menjadi apa yang Anda percaya.

Tujuan hidup haruslah besar, namun buatlah target dari tahap ke tahap sehingga Anda bisa melaluinya satu per satu. Dengan cara tersebut maka Anda tidak akan merasa berat untuk mencapai target tersebut.

Anda harus bersenang-senang. Anda akan lebih termotivasi untuk melakukan pekerjaan yang besar jika Anda merasa senang. Apakah Anda memperhatikan jika sedang senang maka Anda akan lebih optimistis? Apakah Anda melihat Anda akan produktif jika Anda menikmati pekerjaan Anda.

Pikirkan apa yang ingin Anda capai. Pikirkan mengenai dampak yang bisa Anda buat. Pikirkan masa depan Anda.

sumber: Liputan6.com

Selasa, 12 Juli 2016

Membangun Mental Bisnis


Mengapa Kita Masih Diam?

suatu ketika ada seorang pemuda yang hidup tanpa kejelasan lalu diberitahu oleh ayahnya;
apakah kamu akan terus begitu?
" tidak ayah"
"tapi mengapa kamu masih berdiam?"
"aku tidak tahu harus berbuat apa ayah"
"mengapa kamu tidak bertanya"
"menanyakan apa ayah, sementara aku tidak tahu sama sekali apa yg harus saya lakukan"
"tanyakanlah satu dari apa yg tidak kamu ketahui"
"kepada siapa aku harus bertanya?"
"kepada siapa yg kamu anggap bisa memberimu jawaban yg terbaik"

beberapa hari kemudian, sang pemuda mendatangi seorang bijak..

pemuda tersebut bertanya;
tolong beritahu kepada saya apa yang harus saya lakukan!
org bijak tersebut pun menjawab;
tanamkanlah pohon dalam jiwamu dan jangan biarkan orang lain untuk merawat pohon yg kamu tanam selain dirimu sendiri.
pemuda pun bertanya;
apa maksudnya?
orang bijak menjelaskan ;
tanamkanlah harapan dalam hidupmu, dan biarkanlah dirimu yg memperjuangkan semua itu, atau jika tidak kamu tidak akan mendapat apa2 dari harapanmu..

jadi ternyata hidup ini harus diawali dengan pertanyaan, kepada siapapun dia bahkan kepada diri sendiri kita harus bisa mengevaluasi diri. lalu berbuatlah, sekalipun ada tantangan yg mesti kamu hadapi maka taklukanlah sebagaimana orang2 sukses menaklukannya. karena perlu kita tahu bahwa setiap kita memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan perubahan, semua berawal dari nol, semua adalah anak cucu adam.. kenapa orang lain bisa berbuat, dan kita harus bingung?

Puisi Taufik Ismail : SURGA 9 CENTI

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
_di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok_,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
*menderita* di kamar tidur
ketika melayani para suami yang _bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok_,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
_Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS_,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan *ada juga dokter-dokter merokok*,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,


Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-‘ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
_Mereka ulama ahli hisap._
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
_terselip berhala-berhala kecil,_
_sembilan senti panjangnya,_
_putih warnanya,_
_ke mana-mana dibawa dengan setia,_
*satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,*

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya  ustadz.

Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.

Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.

Kalau tak tahan,

Di luar itu sajalah merokok.

Laa taqtuluu anfusakum.


Min fadhlik, ya ustadz.

*25 penyakit ada dalam khamr.*

*Khamr diharamkan.*

*15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).*

*Daging khinzir diharamkan.*

*4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.*

_Patutnya rokok diapakan?_


Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.

Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.

Mohon ini direnungkan tenang-tenang,

karena pada zaman Rasulullah dahulu,

sudah ada alkohol,

sudah ada babi,

tapi belum ada rokok.


Jadi ini PR untuk para ulama.

_Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,_

_Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,_

_jangan,_


Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.

Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,

yaitu ujung rokok mereka.

Kini mereka berfikir.

Biarkan mereka berfikir.

Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,

dan ada yang mulai terbatuk-batuk,


Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,

*sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.*

Korban penyakit rokok

lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,

lebih gawat ketimbang bencana banjir,

gempa bumi dan longsor,

cuma setingkat di bawah korban narkoba,


Pada saat sajak ini dibacakan,

_berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,_

jutaan jumlahnya,

bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,

dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,

*diiklankan dengan indah dan cerdasnya,*


Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,

tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,

karena orang akan khusyuk dan fana

dalam nikmat lewat upacara menyalakan api

dan *sesajen asap tuhan-tuhan ini,*


Rabbana,

beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini…


[Sumber: nugarislurus.com]

Sabtu, 09 Juli 2016

Kita Adalah PENJUAL

Sadar atau tidak, suka atau tidak, setiap kita adalah penjual. Siapa yang ingin bertahan hidup maka dia harus menjual. Siapa yang menghendaki kesuksesan maka dia harus menjual. Bahkan jika ingin masuk surga maka harus dengan menjual. Karena Allah SWT berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka”. (At Taubáh: 111).  Dengan demikian kita sepakat bahwa setiap orang mesti menjual meskipun bukan uang semata yang jadi orientasi.

Setelah kita menyadari bahwa setiap kita adalah penjual, maka penting bagi kita untuk menjadi penjual yang handal. PENJUAL YANG ANDAL ADALAH PENJUAL YANG MAMPU MEMBUAT KONSUMEN DATANG UNTUK MEMBELI, KEMUDIAN MEMBELI LAGI UNTUK MEMBELI, DAN TERUS MEMBELI (ali Arifin, 2009).

ingat..!
hal yang paling penting dari penjualan adalah tentang bagaimana kita menjual.

Banyak produk atau jasa yang berkwalitas bagus tapi orang tidak membelinya karena kesalahan penjualan. Atau banyak juga barang yang murah dipasarkan di lokasi yang ramai tapi sepi pembeli, sekali lagi yg terpenting adalah bagaimana kamu menjual. Dapat saya pastikan bahwa usaha apa saja akan gagal jika cara penjulannya salah dan tidak ada orang yang mau membeli produk atau jasanya.

Dengan demikian, saya merekomendasikan anda untuk mengilmui bagaiman cara atau seni menjual. Dengan ilmu dan pengalaman, kita akan lebih mudah dalam menentukan strategi menjual.

Tapi ada hal yang tidak boleh dilupakan bahwa Allah yang menentukan rezki seseorang. Kita hanya bisa BERUSAHA dan jangan lupa BERDOA.

ALLAH AKAN MEMBALAS SESUAI DENGAN USAHA KITA.

HASIL ITU ADA KARENA ADAPULA UPAYA YANG KITA LAKUKAN.